Ancaman Karhutla Makin Menjadi, Hotspot Bertambah 134 Titik Dalam Sehari, Sudah 2.998 Hektare Lahan Terbakar
0 menit baca
Dalam sehari, titik hotspot bertambah sebanyak 134 titik hanya dalam satu hari pada 14 September 2026 kemarin menjadi 236 titik.
Padahal sehari sebelumnya pada 13 September 2026, terpantau titik hostspot hanya ada sebanyak 102 titik.
“Lonjakan ini harus menjadi alarm bagi seluruh Satgas. Setiap hotspot harus segera diverifikasi dan, apabila ditemukan kebakaran, respons lapangan tidak boleh lebih dari 24 jam,” kata Wakil Ketua DPRD Provinsi Jambi, Ivan Wirata.
Menurutnya, hotspot tidak selalu berarti kebakaran. Karena itu, setiap titik harus diberikan status yang jelas, mulai dari belum diverifikasi, telah diperiksa, terkonfirmasi kebakaran, sedang dipadamkan, telah padam, dalam pendinginan, hingga kemungkinan muncul kembali.
“Data harus menjadi alat komando, bukan sekadar angka laporan. Kita perlu mengetahui berapa hotspot yang benar-benar kebakaran, berapa yang sudah dipadamkan, berapa yang sedang didinginkan, dan berapa yang kembali muncul,” tegasnya.
Laporan Satgas mencatat total estimasi luas kebakaran di Provinsi Jambi telah mencapai 2.998,02 hektare.
Kebakaran terbesar terjadi di Batanghari seluas 773,25 hektare, disusul Muaro Jambi 556,61 hektare, Sarolangun 508,55 hektare, Tanjung Jabung Barat 488,75 hektare, dan Tebo 312,46 hektare.
Lima daerah tersebut menyumbang sekitar 88 persen dari keseluruhan luas kebakaran di Provinsi Jambi.
Karena itu, Ivan meminta penempatan personel, pompa, selang, kendaraan operasional, sumber air, posko kesehatan, dan dukungan logistik lebih diprioritaskan ke lima wilayah tersebut tanpa mengabaikan perkembangan kebakaran di kabupaten lainnya.
“Penanganan harus berbasis peta risiko dan kejadian riil. Anggaran maupun peralatan tidak boleh dibagi rata. Daerah dengan luas kebakaran, gambut, hotspot, dan kesulitan sumber air paling tinggi harus mendapatkan dukungan lebih besar,” ujarnya.
Ivan juga menyoroti memburuknya kualitas udara. Indeks Standar Pencemar Udara di Kabupaten Muaro Jambi tercatat mencapai 231 dengan parameter kritis PM2,5 dan masuk kategori sangat tidak sehat.
Sementara itu, ISPU Kota Jambi tercatat 166, Tebo 140, dan Tanjung Jabung Timur 134. Ketiga daerah tersebut berada dalam kategori tidak sehat.
“Kondisi di Muaro Jambi bukan lagi sekadar persoalan lingkungan, tetapi sudah menjadi ancaman kesehatan publik. Pemerintah harus segera memperkuat perlindungan terhadap anak-anak, lansia, ibu hamil, penderita asma, serta kelompok rentan lainnya,” katanya.
Ivan mendorong pemerintah daerah menyiapkan pembagian masker yang efektif terhadap PM2,5, mengaktifkan puskesmas dan pos kesehatan, meningkatkan ketersediaan obat, memantau kasus ISPA, serta mengevaluasi kegiatan belajar dan aktivitas luar ruangan berdasarkan perkembangan kualitas udara. (*)
